Pages

Minggu, 31 Maret 2019

Filosofi dan Petani






Dalam sebuah kesempatan Syaikh Hammad al-Anshori (1) pernah menanyakan perihal kondisi gurunya yang latar belakangnya adalah filosofi, dari mana ia bisa meniti jalan akidah ahlussunnah salafiyyah, “Wahai syaikh, saya memiliki pertanyaan..” tanya Syaikh Hammad memulai diskusi.

“Apa pertanyaanmu wahai anakku?” jawab Syaikh Hamid al-Faqqy, ulama besar jebolan al-Azhar Kairo, mantan penganut paham filosof itu.

Syaikh Hammad, lanjut bertanya, “Bagaimana engkau bisa menjadi seorang muwahhid (yang bertauhid yang berjalan di atas akidah salafiyyah) sedangkan engkau dahulunya kuliah di Al-Azhar(²) ?" Pertanyaan ini sengaja beliau
ajukan kepada Syaikh al-Faqi di majlisnya yang dihadiri murid-muridnya, agar hadirin juga dapat mendapatkan pelajaran dari jawaban yang akan disampaikan. Hal ini umum dilakukan oleh salaf kita. Bahkan termasuk salah satu metode pembelajaran yang efisien. Yang demikian juga seperti yang dilakukan oleh Malaikat Jibril ketika bermajlis dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang dihadiri para sahabatnya.

“Demi Allah, pertanyaanmu sangat bagus." Jawab Syaikh al-Faqi sambil memberi apresiasi karena pertanyaannya yang berbobot lagi sarat hikmah dan pelajaran. Demikian lah adab seorang pelajar kepada gurunya. hendaknya tidak bertanya dengan pertanyaan yang kurang berfaedah, atau perkara yang sukar dijawab.

Syaikh al-Faqqy melanjutkan, "Aku dahulu belajar di Unversitas Al-Azhar. Dan aku mempelajari akidah ahlul kalam (filsafat) yang mereka ajarkan. Hingga aku mendapat Ijazah LC. Kemudian aku pulang ke negeriku agar mereka (masyarakatku) senang dengan kelulusanku. 

Di pertengahan jalan, aku melewati seorang petani yang tengah berladang. Ketika aku sampai di sisinya, ia pun berkata kepadaku, “Wahai anakku, duduklah di tempat duduk ini.” sapanya halus. Petani itu memiliki sebuah tempat duduk yang ia biasa gunakan untuk istirahat di tempat itu, ketika usai dari pekerjaannya. Aku pun duduk di tempat itu sedangkan ia masih tersibukkan dengan pekerjaannya. Tiba-tiba aku mendapati di sampingku di ujung  tempat duduk itu ada sebuah kitab, aku pun mulai membaca isi kitab tersebut. Ternyata kitab itu adalah kitab yang berjudul “Itima’ juyusy al-Islamiyah ‘ala ghozwil mu’aththilah wal jahmiyah” (arti judul kitabnya : Gabungan Tentara Islam untuk memerangi kelompok mu’aththilah dan jahmiyah) milik Ibnul Qoyyim.

Aku pun mengambil kitab itu dan aku mulai terhibur dengannya. Ketika ia melihatku mengambil kitab itu dan aku mulai membaca isinya, ia pun sengaja mengakhirkan kedatangannya kepadaku. Hingga ia memperkirakan jangka waktu dimana aku bisa memiliki kesimpulan dari kitab tersebut.

Setelah selang beberapa waktu dimana ia mengerjakan pekerjaannya di ladang dan aku membaca isi kitab itu, ia pun datang dan mengatakan : “Assalamu’alaikum wahai anakku, bagaimana kabarmu? Dari mana kamu datang?”

Aku pun menjawab pertanyaan itu.

Ia berkata kepadaku : “Demi Allah, kamu seorang yang jenius! Karena kamu belajar dengan bertahap hingga kamu sampai ke jenjang ini, namun wahai anakku, aku memiliki wasiat.”

Aku : “Apa itu?”

Petani : “Kamu memiliki ijazah yang kamu bisa hidup di seantero dunia ; di Eropa, maupun Amerika dan di seluruh tempat. Akan tetapi yang akan aku ajarkan kepadamu adalah sesuatu yang seharusnya kamu ilmui pertama kali.”

Aku : “Apa itu?”

Petani : “Yang akan aku ajarkan kepadamu adalah tauhid.” iya, Tauhid. Tauhid adalah asas dakwah para nabi dan rasul. Karena tauhid Allah menahan adzab dari sebuah kaum, dan karena Tauhid pula Allah mengazab sebuah kaum.

Aku : “Tauhid..?!!!”

Petani : “Ya, yaitu tauhid salaf (akidah salaf)”

Aku, “Apa itu tauhid salaf?”

Petani, “Lihatlah bagaimana seorang petani yang ada di depanmu mengetahui tauhidnya salaf. Inilah kitab-kitab mereka :
  1. As-Sunnah, milik Imam Ahmad As-Shoghir
  2. As-Sunnah, milik Imam Ahmad Al-Kabir
  3. At- Tauhid, karya Ibnu Khuzaimah
  4. Kholqu Af’aalil ‘Ibad, karya Imam Bukhari
  5. Dan I’tiqod Ahlis Sunnah, karya Al-Lalika’i.

Beliau pun menyebutkan kitab-kitab yang berkaitan dengan tauhid yang sangat banyak. Si petani juga menyebutkan kitab-kitab tauhid milik ulama-ulama yang belakangan. Dan setelah itu dia juga menyebutkan kitab-kitab karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim.

Si petani mengatakan kepada Syaikh Hamid, “Saya akan beritahu kamu kitab-kitab ini. Apabila kamu telah sampai di kampungmu dan masyarakatmu melihatmu dan bergembira atas kelulusanmu, maka jangan engkau menunda untuk mendatangi kota Kairo. Apabila kamu telah sampai Kairo, masuklah perpustakaan Darul Kutub Mishriyyah. Kamu akan dapati di sana kitab-kitab yang barusaja aku sebutkan ini. Semuanya ada di situ. Akan tetapi kitab-kitab itu tertutupi oleh debu. Saya harap kamu bisa membersihkan kitab-kitab itu dari debu, kemudian engkau sebarkan kepada manusia."

Kemudian aku menghentikan (pembicaraan) syaikh, lalu aku bertanya, "Bagaimana seorang petani bisa mengetahui semua itu?"

Syaikh  Hamid al-Faqqy : "Ia mengetahuinya dari gurunya yaitu seorang penjual pasir. Kamu pernah mendengarnya?

Aku (Syaikh Hammad al-Anshori) : " Aku sama sekali belum pernah mendengar tentang si kuli pasir ini. Bagaimana kisahnya?

Syaikh Hamid al-Faqqy: "Dahulu ia pernah mencari kitab-kitab salaf. Maka ketika ia mendapatkannya, ia pun mengumpulkan para buruh dan para tukang sapu. Kemudian ia mengajari mereka. Saat itu ia tidak diizinkan untuk mengajarkannya secara terang-terangan. Dan termasuk di dalamnya (yang ikut belajar) adalah si petani ini. Sejatinya petani ini pantas untuk menjadi seorang imam (dalam agama). Namun ia tersibukkan dengan ladangnya." Selesai 

===================
Sumber : al-Majmu' lisy Syaikh Hammad al-Anshari 1/294-297

*(1) nama lengkap beliau Hammad bin Muhammad al-Anshori as-Sa'di (nisbah kepada sahabat Sa'd bin Ubadah al-Anshori). Salah satu guru beliau yang tersohor adalah Syaikh Hamid al-Faqi. Beliau pernah menjadi dosen di Universitas Islam Madinah. Memiliki karya tulis yang banyak. Beliau wafat pada tahun 1418 H. Dan di antara murid beliau adalah, Syaikh Rabi' al-Madkholi, Syaikh Sholeh Alu Syaikh, Syaikh Ali al-Faqihi dan lainnya.
Di antara kalimat bijak yang beliau ucapkan "ma aktsaro ma kutiba wa ma aqolla ma quria", artinya, alangkah banyak yang ditulis, namun alangkah sedikitnya yang dibaca.

*(2) Al Azhar University, adalah salah Kampus Islam tertua di dunia. Banyak berisi ajaran-ajaran akidah asy-'Ariyyah dan ilmu filsafat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar