Dalam sebuah kesempatan Syaikh Hammad al-Anshori (1) pernah menanyakan perihal kondisi gurunya yang latar belakangnya adalah filosofi, dari mana ia bisa meniti jalan akidah ahlussunnah salafiyyah, “Wahai syaikh, saya memiliki pertanyaan..” tanya Syaikh Hammad memulai diskusi.
“Apa pertanyaanmu wahai anakku?” jawab Syaikh Hamid al-Faqqy, ulama besar jebolan al-Azhar Kairo, mantan penganut paham filosof itu.
Syaikh Hammad, lanjut bertanya, “Bagaimana engkau bisa menjadi seorang muwahhid (yang bertauhid yang berjalan di atas akidah salafiyyah) sedangkan engkau dahulunya kuliah di Al-Azhar(²) ?" Pertanyaan ini sengaja beliau
