"Itulah bulan yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin.." demikian jawaban Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika ditanya mengapa Rasulullah begitu giat melakukan puasa sunnah di bulan tersebut.
Pembaca yang semoga dirahmati Allah.. Bulan Syaban adalah bulan yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin. Seakan-akan tidak nilai yang istimewa pada bulan tersebut. Sehingga banyak dari saudara-saudara kita kaum muslimin yang tidak menyadari kalau Sya'ban telah mendatanginya. Atau mereka menyadarinya namun tidak berbuat sesuai apa yang
dibimbingkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Tentu, ini adalah sebuah kerugian yang amat besar.
Dantara anugerah yang Allah berikan kepada hamba-Nya adalah dengan menjadikan sebagian waktu lebih utama dari waktu-waktu yang lain. Hikmah-Nya adalah agar Allah melipatgandakan ganjaran di waktu tersebut. Dalam sebuah hadits dari sahabat Zaid bin Haritsah beliau berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa di satu bulan yang engkau lebih semangat berpuasa padanya dari bulan Sya'ban?" Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab : "Itulah bulan yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin, yaitu antara Rajab dan Ramadhan. Itu adalah bulan dimana amalan-amalan diangkat kepada rabbul alamin. Maka aku suka apabila amalanku diangkat dalam keadaan aku berpuasa." (diriwayatkan oleh Imam Nasai dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)
Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan dua alasan mengapa beliau begitu giat melakukan puasa pada bulan tersebut. Yaitu karena pada bulan tersebut banyak kaum musllimin yang melalaikannya. Dan dikarenakan pada bulan tersebut amalan-amalan hamba diangkat ke langit. Disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim bahwa amalan tahunan diangkat pada bulan Syaban sebagaiman amalan pekanan diangkat pada hari senin dan kamis, dan amalan harian diangkat pada akhir siang dan akhir malam. (Thariqul Hijratain)
Apabila ada suatu waktu dimana kaum muslimin berpaling dan melalaikannya untuk melakukan amalan-amalan ketaatan, maka di saat itulah Allah melipatgandakan pahala orang yang melakukan ketaatan pada waktu tersebut. Oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah memberitakan tentang umatnya yang beribadah kepada Allah di masa fitnah yang penuh dengan ujian maupun godaan, dimana sangat sedikit di masa itu orang yang mau beribadah kepada Allah :
فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ
مِثْلَ عَمَلِهِ ". وَزَادَنِي غَيْرُهُ : قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ ؟ قَالَ : " أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ ".
Ada beberapa sisi keutamaan orang yang melakukan ketaatan di saat manusia lalai darinya. Diantaranya adalah Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Rajab rahimahullah- :
- Lebih mudah untuk menyembunyikan amalannya dari pandangan manusia. Karena pada saat itu manusia lalai terhadap amalan tersebut. Terkhusus amalan puasa yang mana itu adalah amalan rahasia antara hamba dan Rabb-Nya.
- Demikian pula bahwa orang yang beramal pada saat manusia lalai dari amalan tersebut, jiwanya akan lebih merasakan barat. Berbeda halnya apabila ia beramal di saat manusia juga banyak yang mengamalkannya. Hal itu bisa engkau bandingkan antara puasa Ramadhan dimana hampir seluruh kaum muslimin melaksanakannya dengan puasa sunnah pada bulan Syaban yang sedikit dari kaum muslimin perhatian dengannya. Maka inilah beberapa alasan mengapa amalan di bulan Sya'ban lebih utama dari selainnya.
Adapun tentang hikmah anjuran untuk memperbanyak puasa di bulan Sya'ban, maka dalam hal ini ada beberapa pendapat di kalangan ulama. Namun pendapat yang cukup kuat dan masyhur adalah bahwa memperbanyak puasa dan ibadah dalam bulan Sya'ban gunanya adalah untuk menyiapkan diri dan melatihnya agar ketika ia memasuki bulan Ramadhan ia lebih terasa ringan dan lebih siap untuk mengerjakan puasa dan berbagai amalan lainnya. Karena bulan Ramadhan adalah bulan yang amat mulia yang tidak sepantasnya bagi seorang muslim untuk bermalas-malasan padanya. Dan amat banyak ayat maupun hadits yang menyebutkan tentang yang demikian.
Sehingga menempa jiwa di bulan Sya'ban amatlah penting guna menyongsong bulan Ramadhan yang penuh berkah nan mulia. Orang yang telah membiasakan diri dengan amalan-amalan ketaatan di bulan Syaban, maka jiwanya akan lebih terasa semangat ketika memasuki Ramadhan, dan akan lebih terasa manisnya ibadah di bulan Ramadhan daripada orang yang sama sekali tidak peduli untuk melatih jiwanya di bulan Syaban.
Suatu kerugian di saat seorang hamba memasuki bulan Ramadhan namun jiwanya masih larut dalam berbagai macam urusan dunia. Noktah-noktah maksiat masih melekat pada kalbunya. Akankah ia dapat merasakan manisnya ibadah pada bulan Ramadhan apabila keadaannya demikian? Samakah orang yang memasuki bulan Ramadhan dalam keadaan jiwanya telah digembleng dengan berbagai amalan ketaatan dengan orang yang tenggelam dalam urusan-urusan dunia yang melalaikan? Semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita. <R>

Tidak ada komentar:
Posting Komentar