Pages

Sabtu, 16 November 2019

TUNAKARYA


16.36 jam itu memang jam istirahat, kegiatan para santri di jam itu pun beragam. Dari yang joging, santai-santai sambil menikmati cemilan bersama kawan-kawannya, hingga yang nongkrong di tepian sawah sambil menikmati angin sore.
Dan dari santri yang jumlahnya tidak kurang dari 100 kepala itu hanya ada satu santri yang hanyut bersama bacaan Qur'annya sembari menghadap kiblat di salah satu sudut masjid yang setengah jadi itu. Terlepas dari santri yang memiliki kesibukan atau tugas tersendiri; seperti ta'awun kerja bakti dsbg.

Sekilas, pemandangan itu memang tidak ada yang aneh atau abnormal, karena memang kegiatan pada jam itu adalah kegiatan istirahat alias kosong. Hanya saja kalau pemandangan seperti ini terjadi di tengah lingkup pesantren salafi, rasanya kurang baik. Pasalnya santri ahlussunah salafiyah adalah potret santri yang giat dalam menuntut ilmu. Santri bukanlah sosok tunakarya yang suka menganggur dan berbuat sia-sia. Namun mereka adalah sosok-sosok yang sangat bakhil terhadap waktunya, ketimbang membuangnya sia-sia.

Seringnya waktu kosong hanya digunakan untuk sekadar mengobrol dalam hal-hal yang kurang bermanfaat. Dan umumnya jika satu bahan obrolan mulai 'dinikmati', satu demi satu teman-teman mulai berdatangan, maka susah dihentikan. Hingga tanpa ia sadari, ternyata ia telah melabrak sekian rambu-rambu syari'at; Ghibah, membumbui dusta dalam obrolannya agar lebih terasa renyah, hingga merekayasa humor untuk mencari perhatian dan gelak tawa.

"Sungguh aku benci kepada seseorang yang nganggur, tak melakukan amalan akhirat maupun urusan duniawi." Demikian petuah bijak dari sahabat Ibnu Mas'ud. Dan memang demikian, karena perilaku menganggur selalu identik dengan kebiasaan orang-orang malas.

Waktu kosong bagi kaum santri adalah kesempatan emas untuk mengejar target dan cita-cita mereka. Betapa banyak aktifitas yang bermanfaat yang mendukung kegiatan belajar mereka daripada sekadar duduk-duduk santai 'menikmati' angin sore, mengobrol tanpa tujuan yang jelas, 

Banyak kegiatan-kegiatan manfaat yang bisa dilakukan di waktu kosong:
  1. Kegiatan ta'awun atau bakti sosial. Seperti menjenguk temannya yang sedang sakit, dsbg. Atau kalau memang ingin melakukan aktivitas fisik, bisa ta'awun yang berkaitan dengan pekerjaan/proyek pesantren, jika dirasa memang ia mampu dan kompeten dalam pekerjaan tersebut. Dan jangan sampai justru menganggu. 
  2. Membaca. Tidak sedikit dari kita yang merasa penat setelah seharian melewati kegiatan ka-be-em, sehingga ingin me-refresh kembali otak kita. Maka membaca adalah kegiatan yang bisa bernilai sejuta manfaat. Banyak bacaan yang bisa me-refresh kembali otak kita dari kepenatan. Membaca apa saja. Dari buku yang berkaitan dengan disiplin ilmu dalam kurikulum di pesantren, buku-buku sirah nabawiyah, sejarah para sahabat atau para tabi'in. 
  3. Menghafal. Menghafal adalah kegiatan yang tidak bisa terlepas dari kaum santri. Dalam waktu kosong ia bisa memaksimalkan untuk menghafal Al-Qur'an, atau menghafal matan-matan hadis; seperti Arba'in, Umdatul Ahkam, dll. Atau matan-matan Akidah; Usul Tsalatsah, Qawaid Arba, dsbg. Intinya menghafal apa saja yang dapat menunjang kegiatan pembelajarannya. Dengan aktifitas sederhana ini jika dilakukan secara kontinyu, maka hasilnya akan luar biasa.
  4. Dll
Dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat, baik yang kembali kepada dirinya atau orang lain, maka ia bisa terhindar dari berbagai perbuatan yang sia-sia dan mudharat. Karena umumnya jika seseorang itu kosong dari kegiatan, maka sangat mudah bagi setan untuk menggiringnya pada hal-hal yang bermudharat. 

Maka seorang santri dan siapapun, hendaknya cerdas dalam memanfaatkan waktunya. Menjadikan waktunya lebih berharga dari harta yang termahal miliknya, dan dari segalanya. Karena, waktumu sangat menentukan masa depanmu. (eR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar